Di era media sosial seperti hari ini, santri, pesantren bahkan NU sering menjadi sasaran kritik, sindiran hingga hujatan. Setiap ada kasus yang menyeret nama pesantren, apalagi soal kekerasan seksual atau penyalahgunaan kekuasaan, ruang digital langsung ramai. Potongan video tersebar, opini bertebaran, komentar liar bermunculan dari berbagai arah.
Dan jujur saja, banyak dari kita sebagai santri langsung refleks marah.
Kita tersinggung ketika pesantren disinggung. Kita geram ketika NU dihina. Kita tidak rela ketika nama santri dipermainkan. Tapi di tengah semua itu, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: sebenarnya apa akar masalahnya?
Karena bagaimana mungkin kita bisa menemukan solusi kalau mengenali masalahnya saja kita enggan? Atau mungkin sebenarnya tahu, tapi tidak mau mengakuinya.
“Itu Cuma Oknum” Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah
Salah satu respons paling umum ketika ada kasus di pesantren adalah kalimat:
“itu cuma oknum.”
Kalimat ini memang tidak sepenuhnya salah. Tidak adil juga kalau seluruh pesantren digeneralisasi hanya karena ulah beberapa orang. Tapi masalahnya, masyarakat hari ini melihat sesuatu yang berulang. Dan ketika sebuah kasus terus muncul dalam waktu yang berbeda dengan pola yang hampir sama, maka wajar kalau publik mulai mempertanyakan:
“masa iya oknum terus?”
Baca juga: Santri Tidak Sepenting Itu di Masyarakat
Apalagi bagi orang-orang yang tidak pernah hidup di lingkungan pesantren. Yang mereka lihat bukan realitas utuh pesantren, tapi potongan informasi yang muncul di media dan media sosial. Dan sayangnya, yang paling sering viral justru berita buruknya.
Lalu kadang kita menjawab:
“kalian harus mondok dulu biar tahu pesantren.”
Padahal jawaban seperti itu justru membuat kita terlihat defensif dan tidak siap menerima kritik. Orang sedang membicarakan fakta yang mereka lihat, sementara kita sibuk menjaga perasaan kita sendiri.
Membela Pesantren Tidak Harus Menutupi Masalah
Banyak orang mengira mencintai pesantren berarti harus selalu membela pesantren dalam kondisi apapun. Padahal tidak selalu begitu.
Kadang justru karena cinta kepada pesantren, kita harus berani mengakui bahwa ada penyakit di dalamnya yang memang perlu disembuhkan.
Karena pada dasarnya tidak ada lingkungan yang steril dari masalah. Pesantren tetap diisi manusia. Dan manusia tidak pernah luput dari salah. Yang berbahaya justru ketika sebuah lingkungan merasa dirinya terlalu suci untuk dikritik.
Hari ini yang dibutuhkan bukan budaya menutupi masalah, tapi budaya memperbaiki masalah.
Mengakui adanya penyimpangan bukan berarti membenci pesantren. Justru itu tanda bahwa kita ingin pesantren tetap dipercaya masyarakat.
Karena kalau semua kritik selalu dianggap serangan, kapan ruang introspeksi akan muncul?
Ketika “Takzim” Disalahgunakan
Salah satu persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka adalah penyalahgunaan budaya takzim.
Tidak sedikit orang yang memakai statusnya sebagai:
- kiai,
- putra kiai,
- santri senior,
- atau orang dekat pesantren,
untuk membangun relasi yang tidak sehat. Bahkan dalam beberapa kasus, ada yang menjadikan budaya takzim sebagai alat untuk membungkam orang lain.
Padahal takzim bukan berarti mematikan akal sehat.
Takzim adalah penghormatan terhadap ilmu dan adab, bukan pembenaran terhadap perilaku menyimpang. Maka jangan sampai status sosial di pesantren membuat seseorang merasa kebal dari kritik dan koreksi.
Dan yang menarik, sebenarnya banyak juga putra kiai atau santri yang sadar akan masalah ini. Banyak yang diam-diam muak terhadap orang-orang yang menjual nasab, senioritas atau simbol agama demi kepentingan pribadi.
Artinya, kesadaran untuk memperbaiki pesantren sebenarnya juga lahir dari dalam pesantren itu sendiri.
Media Sosial dan Perang Narasi Tentang Pesantren
Hari ini perang opini terjadi di media sosial. Tempat yang sangat liar. Semua orang bisa berbicara, membuat asumsi dan menggiring opini.
Kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan tentang pesantren. Tapi kita bisa mengendalikan cara kita merespons.
Sayangnya, banyak santri yang baru aktif ketika ada serangan. Sibuk perang komentar, marah-marah dan defensif. Padahal energi sebesar itu seharusnya juga dipakai untuk membangun narasi positif tentang pesantren.
Misalnya dengan memperbanyak:
- konten prestasi santri,
- karya intelektual pesantren,
- kontribusi sosial,
- tradisi keilmuan,
- inovasi santri,
- hingga kisah-kisah inspiratif dari dunia pesantren.
Karena hari ini pesantren sering kalah bukan karena tidak punya kebaikan, tapi karena malas menceritakan kebaikan itu sendiri.
Santri Harus Dewasa Menghadapi Kritik
Tidak semua kritik adalah kebencian. Dan tidak semua orang yang mengkritik pesantren berarti anti pesantren.
Kadang kritik justru lahir karena masyarakat masih peduli. Maka respons terbaik bukan selalu marah, tapi belajar memilah:
mana kritik yang memang fitnah, dan mana kritik yang memang perlu dijadikan bahan muhasabah.
Kalau tidak bisa diam menghadapi masalah, minimal pahami dulu apa yang sedang dibicarakan. Bedakan mana sebab dan mana akibat. Jangan sampai kita sibuk membela sesuatu yang sebenarnya memang perlu dibenahi.
Karena pada akhirnya, menjaga marwah pesantren bukan cuma soal membela nama baiknya dari luar. Tapi juga tentang keberanian membersihkan penyakit di dalamnya.
Dan mungkin, itu juga bagian paling berat dari mencintai pesantren.
