Masjid Dhirar: Ketika Niat Merusak Tempat Ibadah

Sejak masa Rasulullah ﷺ, Masjid bukan sekedar bangunan untuk melaksanakan ibadah umat Islam, melainkan menjadi simbol ibadah, persatuan umat, dan pembinaan spiritual serta sosial kaum Muslimin. Di sisi lain, masjid pernah disalahgunakan oleh pihak yang berniat buruk terhadap Islam dan kaum muslimin, sehingga adanya masjid tersebut harus dihancurkan.

Latar Belakang Pembangunan Masjid Dhirar

Salah satu peristiwa yang mencerminkan penyalahgunaan agama adalah pembangunan Masjid Dhirar oleh kaum munafik pada masa Rasulullah ﷺ. Pada saat itu, orang-orang munafik menyebarkan kabar tentang persiapan pasukan Romawi saat perang Tabuk, padahal mereka mengetahui bagaimana keberhasilan Rasulullah ﷺ dalam segala pertempuran yang dihadapinya, orang-orang munafik itu tetap menginginkan terwujudnya apa yang mereka sembunyikan di dalam hati mereka, yaitu terjadinya hal-hal buruk terhadap Islam dan pemeluknya. Untuk mewujudkan itu, mereka berkonspirasi dalam bentuk masjid, yang dikenal dengan Masjid Dhirar.

Masjid Dhirar merupakan masjid yang didirikan oleh orang-orang munafik pada masa Rasulullah ﷺ dengan maksud jahat terhadap Islam dan kaum muslimin, bertujuan untuk membahayakan kaum muslimin, kufur kepada Allah, melindungi kelompok yang bersekongkol dalam merencanakan kejahatan dan kegelapan terhadap jama’ah kaum Muslimin, serta bekerja sama dengan musuh-musuh Islam dengan tipu daya berlindung di balik kedok agama.

Sosok Abu Amir Ar-Rahib

Ibnu Katsir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Qathadah, Urwah, dan lainnya. Di madinah, ada seorang laki-laki yang berasal dari suku Khazraj namanya Abu Amir Ar-Rahib. Dia adalah seorang Nasrani pada masa jahiliyah, dia juga memiliki pengaruh besar di Khazraj. Ketika Rasulullah tiba di Madinah, kaum muslimin berkumpul menyambut beliau, sehingga Islam memiliki kedudukan yang tinggi. Abu Amir marah dan menunjukan permusuhan terhadap Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, Islam menjadi kuat, Allah memenangkan kaum muslimin dalam Perang Badar, saat itu Abu Amir menunjukkan permusuhan secara terang-terangan. Ia melarikan diri kepada kaum kafir Quraisy di Makkah untuk bersekongkol memerangi Rasulullah ﷺ. Kemudian mereka berkumpul bersama suku-suku Arab lainnya dan datang pada Perang Uhud. Dalam Perang Uhud, Abu Amir menggali beberapa lubang di medan perang yang menyebabkan Rasulullah ﷺ jatuh ke dalam salah satunya. Saat itu, wajah beliau terluka, gigi geraham bagian bawah patah, dan kepala beliau terluka.

Konspirasi Abu Amir dengan Kaisar Romawi dan Perintah Membangun Masjid Dhirar

Setelah kalah dalam Perang Uhud, Abu Amir melihat kedudukan Rasulullah ﷺ semakin kuat, sehingga dia memutuskan pergi menemui Kaisar Romawi (Heraklius) untuk meminta bantuannya melawan Nabi ﷺ. Kaisar menjanjikan bantuan dan Abu Amir tinggal di sisinya, lalu ia menulis surat kepada sebagian orang munafik dari kalangan Anshar di Madinah. Dalam surat-suratnya  ia menjanjikan akan datang membawa pasukan besar untuk mengalahkan Rasulullah ﷺ dan mengembalikan keadaan seperti semula. Ia juga memerintahkan mereka membangun markas rahasia berupa masjid yang akan digunakan para utusan darinya, sebagai tempat singgah dan pusat komunikasi. Mereka membangun masjid dekat Masjid Quba yang selesai sebelum Rasulullah ﷺ berangkat ke Tabuk.

Upaya Kaum Munafik Mengukuhkan Masjid Dhirar kepada Rasulullah

Setelah pulang dari Tabuk, Rasulullah ﷺ kembali melakukan perjalanan ke Madinah. Ketika beliau tiba di Dzu Awan, sebuah tempat yang jaraknya kira-kira satu jam perjalanan dari Madinah. Saat itu, para pendiri Masjid Dhirar datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah membangun sebuah masjid untuk orang-orang yang sakit, orang-orang yang membutuhkan, untuk malam yang hujan dan malam yang dingin. Kami berharap engkau mau datang dan salat bersama kami di dalamnya”. Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku sedang dalam perjalanan dan sibuk sekarang”, atau sebagaimana yang beliau katakan. Jika nanti kami telah kembali insya Allah kami akan mendatangi kalian dan salat di dalamnya.”

Turunnya Wahyu dan Perintah Penghancuran Masjid Dhirar

Ketika Rasulullah ﷺ singgah Dzu Awan, datanglah wahyu dari langit kepadanya. Kemudian beliau memanggil Malik bin Ad-Dukhsyum dan Ma’an bin Adi, lalu bersabda: “Pergilah kalian berdua ke masjid yang para penghuninya telah berbuat zalim, robohkan dan bakarlah masjid itu”. Keduanya segera berangkat, mereka memasuki masjid itu sementara orang-orang masih berada di dalamnya, kemudian mereka membakarnya, merobohkannya, dan orang-orang pun tercerai-berai.

Dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Ammar bin Yasir dan Wahsyi (pembunuh Hamzah) untuk merobohkan dan membakar masjid itu. Mereka merobohkan dan membakarnya dengan api dari pelepah kurma. Kemudian tempat itu dijadikan sebagai tempat pembuangan bangkai dan sampah.” (Abu Hayyan, Tafsir Al-Kabir Al-Musamma Al-Bahr Al-Muhith, [Dar Ihya At-Turats Al-A’rabi], juz 5, hal 99).

Tokoh Munafik yang Terlibat dalam Pendirian Masjid Dhirar

Dalam Tafsir Al-Kabir Al-Musamma Al-Bahr Al-Muhith karya Abu Hayyan Al-Andalusi disebutkan orang-orang munafik yang membangun Masjid Dhirar berjumlah 12 orang, yaitu:

  1. Khidham bin Khalid (dari rumahnya dibangun masjid itu)
  2. Ts‘alabah bin Hathib
  3. Mu‘attib bin Qusyair
  4. Haritsah bin ‘Amir
  5. Mujammi dan Zaid (putra Haritsah)
  6. Nabtal bin Harits
  7. Abbad bin Hanif
  8. Nijad bin Utsman
  9. Wadi’ah bin Tsabit
  10. Abu Hanifah al-Azhar
  11. Bahzaj bin Amr
  12. Seorang lelaki dari Bani Dhabi’ah

Terkait peristiwa ini kemudian turunlah ayat Al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 107-110:

Di antara orang-orang munafik itu ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadharatan (pada orang-orang yang beriman), (menyebabkan) kekufuran, memecah belah antara orang-orang mukmin, dan menunggu kedatangan orang-orang yang sebelumnya telah memerangi Allah dan Rasul-Nya. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Allah bersaksi bahwa sesungguhnya mereka itu benar-benar pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat di dalamnya (masjid itu) selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri. Maka, apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan rida(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di sisi tepian jurang yang nyaris runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan (kemunafikan) dalam hati mereka sampai hati mereka terpotong-potong. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah: 107-110).

Adapun maksud dari firman-Nya “untuk menimbulkan kemudharatanyaitu mereka (orang-orang munafik) bermaksud menandingi Masjid Quba. Maksud “kekafiranyaitu tujuan mereka bukanlah beriman kepada Allah, melainkan sebaliknya. Maksud “memecah belah antara orang-orang mukminyaitu memisahkan kaum Muslimin dari Masjid Quba.

Sedangkan maksud “sebagai tempat mengintai bagi orang yang sebelumnya memerangi Allah dan Rasul-Nya” ialah Abu Amir Ar-Rahib Al-Fasiq, orang yang menolak diajak masuk Islam oleh Rasulullah ﷺ. Kemudian dia pergi ke Makkah, mengajak kaum Quraisy untuk menyerang Rasulullah ﷺ pada Perang Uhud.

Setelah usahanya gagal, Abu Amir pergi ke Kaisar Romawi untuk meminta bantuan memerangi Rasulullah ﷺ. Abu Amir berada dalam agama Heraklius, yakni di antara orang Arab yang memeluk Nasrani. Ia terus-menerus mengirimkan surat dan utusan kepada para munafik di Madinah, memberikan janji-janji palsu sebagaimana janji setan yang hanya tipuan belaka. Maka dibangunlah masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para pendukung Abu Amir dan sesama munafik. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “dan sebagai tempat mengintai bagi orang yang sebelumnya memerangi Allah dan Rasul-Nya.”

Kemudian Allah berfirman “Janganlah kamu (Muhammad) sekali-kali melaksanakan salat di dalamnya.” Allah melarang Rasulullah ﷺ untuk mengukuhkan keberadaan masjid itu. Lalu Allah memerintahkan beliau agar salat di masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama, yaitu Masjid Quba. (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, [Dar Alim Al-Kutub: 2003], Juz 7 hal 189).

Dalam buku The Great Episodes Of Muhammad Saw disebutkan bahwa makna dhirar dalam ayat di atas adalah masjid yang digunakan untuk merusak Masjid Quba. Adapun maksud “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama” adalah Masjid Quba.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top