IPNU–IPPNU sebagai Ikatan Nilai dan Jalan Keilmuan

Refleksi Sambutan KH. Busyrol Kariem Zuhri di KONFERCAB IPNU-IPPNU Kabupaten Tasikmalaya

Dalam Konferensi Cabang IPNU XXV dan IPPNU XXIV Kabupaten Tasikmalaya yang diselenggarakan di Pondok Pesantren KH. Zamrotul Muttaqin, KH. Busyrol Kariem Zuhri (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Barat sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning) menyampaikan sambutan yang tidak hanya bersifat organisatoris, tetapi sarat dengan pesan ideologis dan keilmuan bagi kader pelajar Nahdlatul Ulama.

Beliau mengajak seluruh peserta untuk kembali merenungi makna paling dasar dari IPNU itu sendiri, yakni ikatan.

Ikatan sebagai Tali yang Menuntun, Mengikat, dan Menyelamatkan

Ikatan, menurut beliau, bukan sekadar nama organisasi. Dalam perspektif keagamaan, ikatan dapat dimaknai sebagai tali. Tali memiliki fungsi yang sangat konkret dalam kehidupan, dan dari situlah makna IPNU dijelaskan.

Pertama, tali berfungsi menuntun. Artinya, IPNU dan IPPNU adalah ruang kaderisasi yang menempatkan pelajar NU dalam bimbingan ulama. Pelajar NU bukan generasi yang berjalan sendiri tanpa arah, melainkan generasi yang siap dituntun oleh sanad keilmuan, tradisi pesantren, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.

Kedua, tali berfungsi mengikat. Ikatan ini dimaksudkan agar kader tidak tercerai-berai dan tidak mudah terpecah oleh ego, konflik, atau kepentingan sesaat. IPNU–IPPNU harus menjadi ruang kebersamaan dan persaudaraan, bukan arena perpecahan.

Ketiga, tali berfungsi menyelamatkan. Ketika seseorang berada di ambang bahaya, tali yang kuat menjadi pegangan untuk selamat. Dalam konteks ini, IPNU–IPPNU diharapkan menjadi tempat berpegangan bagi generasi muda NU agar tidak terjerumus dalam krisis nilai, kebingungan identitas, dan arus zaman yang menyesatkan.

Ikatan Bukan Sekadar Wadah, Isi adalah Esensi

KH. Busyrol Kariem Zuhri menegaskan satu hal yang sangat penting: tali pada dasarnya adalah benda mati. Ia baru bermakna ketika diisi dan digunakan dengan benar. Begitu pula organisasi.

IPNU dan IPPNU tidak cukup hanya berdiri sebagai struktur dan nama. Hakikatnya terletak pada apa yang diisikan di dalamnya. Karena itulah IPNU disebut Ikatan Pelajar. Pelajar identik dengan keilmuan. Maka isi utama IPNU–IPPNU seharusnya adalah ilmu pengetahuan sebagai kebutuhan rohani, yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan beragama.

Di sinilah organisasi pelajar NU menemukan maknanya: bukan sekadar ruang aktivitas, melainkan ruang pengisian nilai.

Simbol dan Nilai: Tekad Lurus Pelajar NU

Beliau kemudian mengaitkan pengisian keilmuan tersebut dengan simbol-simbol NU dan IPNU. Dalam NU, lambang bola dunia yang dikelilingi sembilan bintang melambangkan keluasan pandangan dan nilai-nilai keulamaan. Sementara pada IPNU, bentuk bulat melambangkan tekad yang lurus dan utuh. Dalam istilah gurunya, KH. Abdul Basyith, “teu penyol, tapi geus buleud.”

Tekad pelajar NU harus jelas dan lurus. Tidak setengah-setengah dalam berakidah dan tidak bimbang dalam berkhidmah. Jiwa yang telah diisi dengan ilmu akan memantulkan nilai-nilai tersebut, yang secara simbolik digambarkan melalui sembilan bintang An-Nahdliyah.

Salaf, Kholaf, dan Jalan Hikmah

Nilai An-Nahdliyah tidak bisa dilepaskan dari kesinambungan tradisi keilmuan. KH. Busyrol menegaskan bahwa kita hari ini bukan hidup di zaman ulama salaf, bukan pula berada di masa para mujtahid mutlak. Karena itu, jalan kita bukan mengklaim diri sebagai pengikut ulama salaf atau kholaf, melainkan mengambil hikmah dari keduanya.

Hikmah di sini bukan dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat luar biasa atau khowariqul adat, tetapi sebagai pemahaman terhadap hukum-hukum Allah melalui penjelasan Rasulullah dan ulama. Warisan hikmah inilah yang dikembangkan oleh kiai-kiai NU melalui pendidikan pesantren dan pengajaran kutubut turats (kitab kuning).

Pelajar NU belajar dari hasil ijtihad para ulama melalui kitab-kitab yang dipelajari, bukan untuk merasa paling benar, tetapi untuk menjaga kesinambungan keilmuan Islam.

Thariqah, Keseimbangan Hidup, dan Kesadaran Peradaban

Dalam hal laku spiritual, KH. Busyrol menegaskan agar thariqah tidak dipahami secara sempit atau berlebihan hingga merusak tatanan akidah dan syariat. Jalan yang ditempuh adalah mengikuti ulama yang memahami kaidah fikih dan ushul fikih, serta menjaga keseimbangan antara kebutuhan rohani dan jasmani.

Keseimbangan ini tercermin dalam dua prinsip utama: penghambaan kepada Allah melalui syariat, dan penyandaran diri kepada-Nya dalam hakikat kehidupan.

Lebih jauh, pelajar NU juga harus memiliki kesadaran peradaban (saqafah). Lambang bola dunia NU mengingatkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan perbedaa mulai dari suku, budaya, bangsa, bahkan agama. Namun ukuran kemuliaan manusia tetap satu, yaitu takwa.

Menyiapkan Penerus NU yang Kokoh

KH. Busyrol Kariem Zuhri menegaskan bahwa kaderisasi NU adalah proses panjang. Dari IPNU–IPPNU, kemudian berproses di banom NU selanjutnya, estafet keilmuan dan nilai harus terus dijaga. Yang diwariskan bukan sekadar struktur organisasi, melainkan kelurusan akidah, kematangan akhlak, dan kedalaman ilmu.

Dalam menghadapi tantangan zaman yang datang bertubi-tubi, NU hanya akan tetap tegak jika memiliki kader yang termasuk dalam kategori ar-rāsikhūna fil ‘ilm (orang-orang yang mendalam ilmunya), memiliki rasa takut kepada Allah, tawadhu kepada sesama, zuhud terhadap dunia, dan bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu.

IPNU, sebagai Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, diharapkan benar-benar menjadi ikatan nilai dan jalan keilmuan. Jika ikatan ini diisi dengan pendidikan yang selaras dengan warisan kutubut turats para ulama, maka generasi muda NU akan tetap kokoh, tidak mudah tercerai-berai, dan siap melanjutkan khidmah keulamaan di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top