Perjalanan Pengasuh PP Nurul Chotib Rowokangkung Lumajang yang Bangkit dari Amanah dan Perjuangan
Lumajang kembali melahirkan sosok pemuda inspiratif yang berhasil membuktikan bahwa santri desa juga mampu bersaing di level nasional. Dia adalah Gus Rozi, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Chotib Rowokangkung Lumajang, yang dikenal sebagai sosok muda visioner, religius, dan aktif dalam dunia organisasi serta kepemudaan.
Perjalanan hidup Gus Rozi bukan cerita yang instan. Di usia 18 tahun, saat banyak anak muda masih sibuk menikmati masa remaja, beliau justru harus menerima ujian besar menjadi seorang yatim sekaligus memikul amanah besar untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren keluarga.
Bukan perkara mudah memimpin pesantren di usia muda. Namun dari situlah mental perjuangan Gus Rozi mulai terbentuk. Di tengah tanggung jawab besar mengurus santri dan menjaga amanah keluarga, beliau tetap melanjutkan pendidikan kuliah serta aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan sosial.
“Capek itu pasti, tapi berhenti bukan pilihan,” menjadi prinsip hidup yang terus beliau pegang sampai hari ini.
Langkah perjuangan Gus Rozi mulai mendapat perhatian publik pada tahun 2023, ketika dirinya terpilih mengikuti Konferensi Pemuda Parlemen Indonesia. Kehadirannya menjadi representasi anak muda pesantren yang mampu tampil aktif membawa gagasan perubahan untuk bangsa.
Tak berhenti di sana, pada tahun 2024 Gus Rozi kembali menorehkan prestasi dengan terpilih sebagai Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Kabupaten Lumajang. Dedikasinya dalam dunia pendidikan, pembinaan santri, dan pengembangan generasi muda dinilai membawa dampak nyata di tengah masyarakat.
Kemudian pada tahun 2025, Gus Rozi berhasil menyelesaikan pendidikan Magister (S2) Pendidikan Agama Islam di Universitas KH Ahmad Muzakki Syah Jember. Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus berkembang dan belajar.
Puncaknya, di tahun 2026 Gus Rozi resmi dilantik sebagai Kepala Direktorat Ekonomi Kreatif DPP Pemuda Parlemen Indonesia. Amanah tersebut menjadi bukti bahwa pemuda pesantren juga mampu hadir di ruang strategis nasional dengan membawa semangat perubahan, kreativitas, dan pemberdayaan generasi muda.
Kini nama Gus Rozi mulai dikenal sebagai simbol pemuda santri modern — tetap menjaga nilai pesantren, tapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sosok yang membuktikan bahwa anak desa nggak harus minder untuk punya mimpi besar.
Dari lorong pesantren sederhana di Rowokangkung Lumajang, Gus Rozi menunjukkan bahwa perjuangan, doa, dan konsistensi bisa membawa seseorang menuju panggung nasional.
“Lahir di desa bukan berarti mimpi kita kecil. Kadang justru dari tempat sederhana, lahir perjuangan yang luar biasa.”
