Pesantren adalah sebuah medan pembelajaran dan pendidikan tertua di Indonesia, seperti yang dikatakan Zamakhsyari Dhofier atau Van Bruinessen dalam buku mereka. Eksistensinya sudah lebih dahulu ada sebelum sekolah-sekolah formal atau perguruan tinggi negeri maupun swasta berdiri. Pesantren sebagai pelaku sejarah yang mewarnai Indonesia telah berkontribusi dan melahirkan generasi-generasi terbaik baik sebelum dan sesudah merdeka.
Akan tetapi, dalam perjalanannya pesantren tidak selalu mulus. Ada saja rintangan dan tantangan yang dihadapi dan diselesaikan oleh warga pesantren. Mulai dari berbagai tuduhan miring tentang pesantren, atau beberapa oknum yang mengatasnamakan pesantren hingga mencederai para kiyai dan santri yang sedang fokus mencetak kaderisasi generasi-generasi emas ala pesantren.
Menghadapi kasus seperti ini, kita (baik warga pesantren atau bukan) harus menyikapinya dengan kepala dingin dan juga etika, jangan bersikap reaktif. Karena pada beberapa kasus yang terjadi, ada sebagian pihak yang tersulut emosi dan tidak tahu di mana permasalahannya dan bagaimana solusinya, hingga pada akhirnya keadaan semakin kacau.
Setidaknya harus ada dua pihak yang saling memahami dan mengedukasi.
- Pesantren: Pengurus, Santri, dan Kiyai
Ketika ada kasus besar (contoh: kasus narasi miring pesantren oleh Kanal Televisi Nasional belakangan ini), pesantren harus bisa bersikap tenang dan tabayyun. Pengurus harus bisa menjadi jembatan antara para santri dan kiyai dalam bertindak, argumen di balas argumen, jika pun harus demonstrasi harus ada konsolidasi terlebih dahulu dan meminta arahan kiyai.
Karena lucu, dalam beberapa kasus terjadi demonstrasi, akan tetapi yang jadi sasaran demo bukan objek seharusnya, ini malah demo ke mall lah, ada seruan menjarah masal lah, atau demo sekadar cemoohan saja terhadap pihak tertentu, atau berargumen, tapi tidak pas (logical fallacy) ketika mengungkapkannya di umum (katakan di media nasional atau media sosial).
Saya rasa pesantren tidak kekurangan orang kritis dan ahli dalam berdebat karena telah terbiasa dengan muhadharah, bahtsul masa’il, munaqasyah dsb. Perangkat-perangkat logika tersedia di pesantren seperti Mantiq, begitupun jika harus beretorika ketika orasi, pesantren ada pelajaran retorika yaitu balaghah, kita bisa tahu kapan kita harus berbicara ijaz atau ithnab.
Lebih baik lagi jika dari pihak pesantren ada yang bisa naik dalam kursi-kursi nasional, baik menjadi bagian pemerintahan, atau menjadi influencer yang menyuarakan hal-hal baik tentang dunia pesantren (kenapa saya menyinggung influencer? karena ini masuk pada pembahasan selanjutnya).
Zaman sudah berubah dan berbeda, dalam berdakwah kita harus bisa menyesuaikan kompleksitas peradaban, tidak melulu menjadi penceramah dari panggung ke panggung. Kuasailah skill-skill yang dibutuhkan zaman sekarang, agar kebaikan dan kebenaran terus terdengar.
2. Influencer dan Masyarakat Awam
Kasus penyemaran nama baik pesantren yang dilakukan oleh sebuah kanal TV nasional adalah bentuk keteledoran pihak televisi dalam mengambil video dan juga narasi dari Voice Over yang tidak cocok ditujukan kepada kiyai yang ada di Video tersebut. Kiyai yang di-take adalah Kiyai sepuh di sebuah Pesantren di Jawa Timur, beliau sudah terekam jejaknya ikhlas dan fokus mengajar kitab kuning kepada para santri, tidak ada kaitan atau gerakan apa pun yang dilakukan oleh beliau, baik politik, sosial dan lain sebagainya. Coba jika yang di-take adalah oknum “gus-gusan” atau video joget-joget dalam acara pengajian, baru itu sesuai jika harus dikritik pun.
Hal itu lah yang mengundang emosi para santri dan pengurus pesantren sebagai bentuk loyalitas. Bayangkan saja, bapakmu yang kesehariannya bekerja mendidik anak-anak di rumah, tiba-tiba ada televisi yang mengambil video dengan narasi yang tidak enak didengar, pasti kamu juga akan marah sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.
Selain itu, momen ini menjadi kesempatan bagi para influencer untuk mengais engagement dari viralnya kasus ini. Tidak sedikit dari para influencer terkenal, bukannya menganalisis dan mencari fakta yang benar mengenai pesantren, ini malah ikut menggoreng pesantren.
Dampaknya, orang yang awam hanya mengikuti apa yang ramai dari jumlah like, komentar dan bagikan. Hingga Masalah ini menjadi semakin keruh, banyak orang yang ikut mengomentari dan mencemo’oh. Hal ini tidak bisa dibiarkan dan para influencer harus lebih bijak lagi, jangan hanya mencari viewers dan engagement, tapi harus bisa memaparkan sisi baik dan sisi buruk ketika ada hal yang vital seperti ini.
Pesantren Terbuka dan Menerima: Pesan Kami kepada Khalayak Umum
Kritik dan masukan terhadap pesantren sangat diterima, apalagi kritik yang membangun. Akan tetapi, dunia yang semakin kental dengan pemanfaatan digital, kadang tidak dimanfaatkan ke arah yang positif. Banyaknya Informasi dari media sosial yang kita dapat, belum tentu menandakan kita sebagai masyarakat maju “jika tanpa didasari dengan akal dan iman”. Ini menjadi ajang pesantren untuk bebenah diri dan menunjukkan mana yang baik dan mana yang salah. Sebaik-baiknya pesantren di dalamnya manusia juga, kritikan dari luar diperlukan agar kita bisa menjadi lebih baik lagi.
Bagi masyarakat awam, satu kesalahan di dalam dunia pesantren, bukan berarti seluruh pesantren salah dan tidak diberi tempat untuk terus berkembang di bumi tercinta ini. Kita harus saling teliti dan seimbang dalam menilai, jangan menjadi budak like dan hal-hal viral saja, jadi lah masyarakat yang kritis dan cerdas.
Bagi para akademisi, kalian sudah dibekali pemahaman-pemahaman ilmiah. Jadilah pemersatu umat di tengah keruhnya informasi, cerdaskan lah warga, masyarakat. Junjunglah idealisme, jangan tergoda oleh hal-hal materialistik.
