Aku masih berdiri disini, berdiri di persimpangan. Menatap jauh ke depan kemana diri ini harus membawa kaki melangkah. Terkadang aku merasa sudah menemukan jawabannya, tapi di waktu yang lain semuanya kembali kabur. Antara keinginan untuk bergerak dan ketakutan akan salah melangkah, aku sering kali hanya bisa diam, berharap waktu bisa memberi sedikit kejelasan.
Beberapa hari berlalu sejak aku menulis tentang “Bimbang” di ruang ratapan yang sederhana ini, nyatanya rasa itu sepertinya belum juga beranjak pergi. Malam-malam terasa panjang karena pikiranku terus berputar, menimbang hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Ada keinginan untuk pergi jauh dari semuanya, untuk menenangkan diri, tapi aku tahu pelarian tidak akan menyelesaikan apa pun. Rasa kosong itu tetap akan mengikuti, di mana pun aku berada.
Aku masih berada dalam fase yang biasa disebut “fase kebingungan”. Bingung antara memilih mencari pekerjaan supaya aku benar-benar bisa mandiri dan bisa memberi manfaat kepada orang lain atau meneruskan mencari ilmu guna memperdalam pemahamanku terhadap ilmu-ilmu dan menambah bekal pengetahuan untuk masa depan ketika aku benar-benar sudah terjun ke dunia luar (masyarakat). Memang, kedua pilihan tersebut sama-sama besar manfaatnya, namun adanya pilihan itu justru membuat hati ini gelisah dan sulit untuk menentukan arah.
Terkadang, sewaktu-waktu aku merasa iri kepada mereka yang tampak sudah begitu yakin dengan tujuannya. Yang tahu pasti harus kemana dan seolah sudah tidak ragu dengan langkahnya. Sedangkan aku di sini masih terjebak dan berputar-putar dalam tanya yang sama “kemana seharusnya aku berjalan?”. Tapi di sela-sela tanya yang sama itu, terkadang dengan kesadaran penuh, aku sadar bahwa kebingungan ini bukanlah tanda aku tersesat, melainkan bagian dari proses untuk mengenal kehendak-Nya.
Mungkin, Allah sedang mengajarkanku untuk menunda keputusan bukan karena aku belum mampu, tapi karena Dia ingin aku benar-benar mendengarkan suara hati, bukan sekadar mengikuti desakan dunia. Sebab, terkadang manusia terlalu cepat ingin bergerak, padahal arah terbaik justru datang ketika kita berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Sedikit demi sedikit, jiwa ini mulai belajar, bahwa dalam setiap kebingungan selalu ada ruang untuk merenung. Di dalamnya, aku menemukan doa yang lebih dalam, dan rasa tawakal yang lebih tulus. Aku berusaha mengingat, bahwa apa pun jalan yang kupilih nanti “pekerjaan atau pendidikan” keduanya hanyalah sarana untuk berjalan lebih dekat kepada Allah. Bukan soal mana yang lebih tinggi di mata manusia, tapi mana yang lebih diridhai di sisi-Nya.